Warto-Mbantul_Permasalahan dugaan pencemaran aliran Sungai Belik yang menyebabkan kematian ikan milik warga Padukuhan Pandes Wonokromo, akhirnya diselesaikan melalui jalur mediasi. Pertemuan yang melibatkan warga terdampak, pemerintah kalurahan, dan pihak terkait menghasilkan kesepakatan berupa pemberian ganti rugi kepada warga serta upaya pemulihan lingkungan melalui penebaran benih ikan di sungai.
Sebelumnya, warga Padukuhan Pandes mengeluhkan perubahan kondisi air Sungai Belik yang tampak berbeda dari biasanya. Sejumlah warga mengamati munculnya busa di permukaan sungai yang kemudian diikuti dengan kematian ikan di beberapa kolam budidaya yang memanfaatkan aliran sungai tersebut.
Salah seorang warga mengungkapkan bahwa air sungai yang semula jernih berubah menjadi berbusa dan diduga memengaruhi kualitas air yang masuk ke kolam ikan miliknya. Dalam beberapa hari setelah perubahan kondisi air tersebut, sejumlah ikan mengalami penurunan kondisi kesehatan hingga akhirnya mati.
Peristiwa tersebut menimbulkan kerugian ekonomi bagi warga yang selama ini memanfaatkan budidaya ikan sebagai usaha sampingan maupun kebutuhan rumah tangga. Kondisi tersebut kemudian mendorong warga untuk menyampaikan laporan kepada pemerintah setempat agar dilakukan penanganan dan penelusuran lebih lanjut.
Menindaklanjuti laporan masyarakat, pemerintah kalurahan bersama pihak terkait memfasilitasi pertemuan dan mediasi guna mencari solusi yang dapat diterima semua pihak. Dalam forum tersebut, berbagai keterangan dan masukan dari warga maupun pihak yang diduga terkait dengan perubahan kualitas air disampaikan secara terbuka.
Hasil mediasi menyepakati bahwa warga yang mengalami kerugian akibat kematian ikan akan mendapatkan penggantian biaya kerugian. Kesepakatan tersebut diterima oleh seluruh pihak sebagai bentuk tanggung jawab dan penyelesaian secara kekeluargaan guna menghindari permasalahan berkepanjangan di masyarakat.
Selain pemberian kompensasi, para pihak juga sepakat melakukan langkah pemulihan lingkungan dengan menebarkan benih ikan di aliran Sungai Belik. Kegiatan tersebut diharapkan dapat membantu mengembalikan ekosistem sungai sekaligus menjadi simbol komitmen bersama dalam menjaga kelestarian lingkungan.
Perwakilan warga menyambut baik hasil mediasi tersebut dan berharap kejadian serupa tidak kembali terulang. Menurutnya, yang terpenting saat ini adalah adanya kepastian penyelesaian kerugian serta upaya bersama untuk menjaga kualitas lingkungan sungai.
Pemerintah kalurahan juga mengimbau masyarakat yang tinggal di sepanjang aliran Sungai Belik untuk terus meningkatkan kepedulian terhadap kebersihan lingkungan dan tidak membuang limbah sembarangan ke sungai. Kesadaran bersama dinilai menjadi faktor penting dalam menjaga kualitas air dan keberlangsungan ekosistem sungai.
Dengan tercapainya kesepakatan tersebut, situasi di Padukuhan Pandes tetap terjaga kondusif. Warga dan pihak terkait sepakat untuk mengedepankan komunikasi serta musyawarah dalam menyelesaikan setiap persoalan yang muncul di tengah masyarakat.
Ke depan, pemerintah bersama instansi terkait akan terus melakukan pemantauan kondisi Sungai Belik guna memastikan kualitas lingkungan tetap terjaga dan dapat dimanfaatkan secara berkelanjutan oleh masyarakat. Penyelesaian melalui mediasi ini diharapkan menjadi contoh bahwa permasalahan lingkungan dapat diselesaikan secara damai, dengan mengedepankan kepentingan bersama dan menjaga keharmonisan sosial di tengah masyarakat.
