Bantul – Majelis Luhur Kepercayaan Terhadap Tuhan Yang Maha Esa (MLKI) Kabupaten Bantul menjadikan Sarasehan Agung sebagai ruang memperkuat toleransi, mempererat persaudaraan, sekaligus menjaga keberlangsungan budaya Jawa di tengah kehidupan masyarakat yang majemuk.
Kegiatan yang digelar di Pendopo Agung Kalurahan Wijirejo, Kapanewon Pandak, Selasa (21/7/2026) malam itu dihadiri sekitar 20 anggota paguyuban penghayat kepercayaan. Hadir pula perwakilan Dinas Kebudayaan DIY dan Kabupaten Bantul, Balai Pelestarian Kebudayaan Wilayah X Yogyakarta, akademisi, unsur Forkopimka Pandak, serta aparat kepolisian.
Ketua MLKI Bantul, Heri Sujoko, mengatakan sarasehan tersebut merupakan bagian dari komitmen organisasi untuk menjaga eksistensi penghayat kepercayaan sekaligus melestarikan budaya Jawa. Menurutnya, di Kabupaten Bantul terdapat 19 paguyuban penghayat kepercayaan yang memiliki keyakinan kepada Tuhan Yang Maha Esa, sehingga semangat saling menghormati harus terus dipelihara.
Ia mengakui jumlah penghayat kepercayaan mengalami penurunan dalam beberapa tahun terakhir dengan berbagai kegiatan pelestarian budaya juga menghadapi keterbatasan anggaran. Karena itu, MLKI berharap dukungan pemerintah dan seluruh elemen masyarakat agar tradisi yang diwariskan leluhur tetap terjaga.
“Kami ingin budaya Jawa tetap lestari. Jangan sampai ajaran dan nilai-nilai yang diwariskan para leluhur hilang karena tidak ada generasi yang melanjutkan,” ujarnya.
Ketua Presidium MLKI DIY, Bambang Purnomo, menilai peringatan sarasehan agung bukan sekadar tradisi namun momentum pengingat bagi masyarakat untuk melakukan introspeksi, memperkuat hubungan dengan Tuhan Yang Maha Esa, sekaligus membangun kehidupan yang rukun di tengah keberagaman.
Hal senada disampaikan Kabid Pembinaan dan Pengembangan ATLAS Dinas Kebudayaan DIY, Rully Andriani. Ia menyebut Sarasehan Agung menjadi kesempatan untuk memperkuat semangat kebersamaan dalam menghadapi berbagai tantangan di masa mendatang.
Dalam sesi sarasehan, Guru Besar Universitas Negeri Yogyakarta (UNY), Prof. Dr. Suwardi Endraswara, mengulas filosofi arah mata angin dalam pandangan hidup masyarakat Jawa. Menurutnya, setiap arah mengandung nilai kehidupan yang mengajarkan manusia untuk menjaga keseimbangan, mengendalikan hawa nafsu, bekerja keras, serta hidup selaras dengan alam dan Sang Pencipta.
Sementara itu, Penasehat MLKI Bantul, Ki Besar Kelik Krismartono, membagikan pengalaman spiritual yang menjadi titik balik kehidupannya setelah mengalami masa keputusasaan. Kisah tersebut disampaikan sebagai refleksi bahwa setiap manusia memiliki tujuan hidup dan tidak ada ciptaan Tuhan yang hadir tanpa makna.
Narasumber lainnya, Semidi Marta, memaparkan konsep Ponco Driya dan tradisi among-among sebagai bagian dari kearifan lokal masyarakat Jawa yang mengajarkan pengendalian diri, rasa syukur, serta penghormatan terhadap adat istiadat. MLKI Bantul berharap nilai toleransi, persaudaraan, dan pelestarian budaya Jawa terus tumbuh sehingga mampu menjadi perekat kehidupan masyarakat di tengah keberagaman.
