Bantul – Puluhan pemuda dari berbagai organisasi kepemudaan di Kabupaten Bantul menggelar kegiatan Diskusi dan Syawalan Pemuda Bantul di Ruang Rapat Paripurna DPRD Kabupaten Bantul pada Selasa, 21 April 2026 siang. Kegiatan yang berlangsung pukul 13.30 WIB hingga 15.30 WIB ini menjadi ruang silaturahmi sekaligus forum penyampaian aspirasi generasi muda.
Acara ini dihadiri Ketua DPRD Bantul Hanung Raharjo, Wakil Ketua Karang Taruna DIY Pranasik Faihaan, Pembina Fatayat Bantul Umi Masruroh, serta sejumlah perwakilan organisasi kepemudaan, di antaranya Ikatan Mahasiswa Bantul (IMABA), IPM, IPNU, IPPNU, Fatayat Bantul, dan Ruang Kolaborasi Pemuda. Total sekitar 50 peserta hadir dalam kegiatan tersebut.
Diskusi mengangkat tema “Syawalan Pemuda Bantul: Suara Pemuda Bantul” yang diinisiasi oleh aliansi Gerakan Kolaborasi Pemuda Projotamansari Bantul (Gapura Bantul). Forum ini dimaksudkan sebagai wadah untuk memperkuat sinergi antarorganisasi sekaligus menyampaikan gagasan pembangunan daerah.
Dalam sambutannya, Umi Masruroh menyampaikan keprihatinan terhadap sejumlah dinamika yang terjadi di Bantul belakangan ini. Ia berharap forum tersebut dapat dimanfaatkan oleh para pemuda untuk menyampaikan ide dan pemikiran konstruktif demi kemajuan daerah.
“Melalui forum ini, kami berharap para pemuda dapat menyampaikan gagasan yang membawa dampak positif serta mendorong kebijakan yang lebih adil dan berpihak pada masyarakat,” ujarnya.
Sementara itu, Ketua DPRD Bantul Hanung Raharjo menyambut baik kegiatan tersebut dan menegaskan pentingnya peran generasi muda dalam pembangunan daerah. Ia menyebut masa depan Bantul berada di tangan pemuda yang saat ini aktif di berbagai organisasi.
“Kami berharap generasi muda terus meningkatkan kapasitas diri. Bantul bukan daerah tertinggal, sehingga perlu kolaborasi semua pihak untuk terus memajukannya,” kata Hanung.
Pada sesi pemaparan materi, Pranasik Faihaan menekankan pentingnya sikap kritis yang santun serta menjunjung nilai kemanusiaan dalam gerakan kepemudaan. Ia juga mengingatkan agar para aktivis menghindari sikap fanatisme sempit yang berpotensi memecah belah.
“Pemuda harus berani menyampaikan kritik, tetapi tetap dengan etika. Forum ini menjadi jembatan komunikasi untuk membangun sinergi yang lebih kuat antarorganisasi,” ungkapnya.
Diskusi kemudian dilanjutkan dengan sesi tanya jawab interaktif, di mana para peserta menyampaikan berbagai aspirasi dan permasalahan dari wilayah masing-masing. Hasil diskusi tersebut direncanakan akan dirumuskan dan disampaikan kepada komisi terkait di DPRD Bantul.
Kegiatan berlangsung dengan lancar dan kondusif, serta diharapkan mampu menjadi langkah awal dalam memperkuat kolaborasi pemuda untuk mendorong pembangunan yang lebih inklusif di Kabupaten Bantul.
