Warto-Mbantul.Com_Penolakan terhadap keberadaan peternakan babi di Padukuhan Plumutan, Kalurahan Mulyodadi, Kapanewon Bambanglipuro, Kabupaten Bantul terus disuarakan warga. Namun di tengah sikap penolakan tersebut, masyarakat tetap menunjukkan komitmen untuk menjaga situasi keamanan dan ketertiban masyarakat (kamtibmas) tetap kondusif.
Aksi penolakan warga telah berlangsung secara berkelanjutan sejak beberapa bulan terakhir, dengan alasan utama berupa bau menyengat yang ditimbulkan dari aktivitas peternakan, serta kekhawatiran akan dampak lingkungan dan kesehatan. Meski demikian, seluruh aspirasi disampaikan melalui jalur resmi, seperti forum musyawarah, audiensi ke pemerintah desa dan kabupaten, hingga aksi damai di sekitar lokasi peternakan.
Tokoh masyarakat Plumutan, Rohmat, menegaskan bahwa penolakan warga bukan ditujukan secara personal kepada pemilik peternakan, tetapi lebih kepada dampak usaha yang dianggap mengganggu kenyamanan hidup warga. “Kami ingin lingkungan yang sehat dan nyaman, namun kami tetap menjunjung tinggi kerukunan. Tidak ada tindakan provokatif yang kami lakukan,” ujarnya.
Hal senada disampaikan oleh Lurah Mulyodadi, yang mengapresiasi sikap dewasa warga dalam menyuarakan pendapat tanpa memicu konflik horizontal. “Kami terus berupaya menjaga komunikasi antarwarga tetap baik. Penolakan ini disampaikan secara tertib, dan kami fasilitasi dalam bentuk dialog serta mediasi dengan pihak terkait,” ujarnya.
Kepala Satpol PP Bantul, Jati Bayubroto, juga mengapresiasi langkah warga yang tetap memprioritaskan keamanan lingkungan. Ia menyatakan bahwa pemerintah telah mengambil tindakan, termasuk meminta penghentian sementara aktivitas peternakan dan mengawasi pengurangan populasi hewan secara bertahap. “Kami berharap proses ini berjalan dengan tenang, dan semua pihak saling menghargai kesepakatan yang telah dicapai,” jelasnya.
Sementara itu, pemilik peternakan dikabarkan telah menyatakan kesediaan menutup usahanya secara bertahap, sebagai bentuk tanggapan atas aspirasi warga. Selama masa transisi, warga juga diimbau untuk terus menjaga situasi tetap damai, sembari menunggu penyelesaian administratif dan teknis dari pihak pemerintah.
Dengan semangat kebersamaan dan musyawarah, warga Plumutan memberikan contoh bahwa penolakan terhadap suatu kebijakan atau aktivitas usaha tidak harus disertai tindakan anarkis. Harmoni sosial tetap dijaga, dan aspirasi disampaikan dalam koridor hukum dan budaya lokal yang menjunjung tinggi kearifan serta ketertiban.
