WARGA TRAYEMAN TAMBALAN DEKLARASIKAN SIKAP DAMAI, TOLAK PROVOKASI DAN JAGA KAMTIBMAS

Spread the love

Warto-Mbantul.Com_Suasana damai dan penuh kekeluargaan mewarnai kegiatan Deklarasi Pernyataan Sikap Paguyuban Warga Trayeman Tambalan, Pleret, Bantul, yang digelar pada Selasa sore, 8 April 2025 di Masjid Ar Rahmat Tambalan.

Dengan mengusung tema “Merajut Harmoni Sosial dan Menjaga Kamtibmas di Tambalan Pleret Bantul”, acara ini menjadi simbol kuat komitmen warga dalam menjaga ketenangan sosial di tengah memanasnya polemik seputar pernyataan kontroversial Gus Fuad terkait penolakan pengusulan Habib Idrus bin Salim Al Jufri (Guru Tua) sebagai pahlawan nasional.

Deklarasi tersebut dihadiri oleh berbagai unsur masyarakat, mulai dari tokoh agama, pemuda, perangkat RT/RW, hingga Pj Dukuh Trayeman, Anang Jatmiko, yang secara tegas menyerukan agar masyarakat tidak mudah terpecah oleh isu-isu yang bersifat provokatif. Dalam pernyataan sikap yang dibacakan secara kolektif, warga menyatakan komitmen kuat untuk menolak segala bentuk ujaran kebencian, provokasi, serta menjaga netralitas dan ketenangan sosial.

Saat ditemui awak media Selasa sore (8/4/2025) Pj Dukuh Trayeman menyatakan bahwa Trayeman Tambalan adalah wilayah yang menjunjung tinggi nilai toleransi dan tidak akan membiarkan dirinya terseret ke dalam konflik oleh kepentingan luar.

Kegiatan yang berlangsung tertib ini ditutup dengan doa bersama demi keamanan dan kedamaian lingkungan, sekaligus menjadi titik balik bagi warga Trayeman untuk terus mempererat solidaritas sosial. Deklarasi ini tidak hanya mencerminkan ketegasan sikap masyarakat, tetapi juga menjadi inspirasi tentang bagaimana warga lokal bisa berdiri teguh dalam menjaga persatuan dan kondusivitas di tengah derasnya arus dinamika nasional.

Langkah yang diambil oleh Paguyuban Warga Trayeman Tambalan ini dinilai sebagai bentuk kedewasaan kolektif dalam menyikapi dinamika sosial yang berpotensi menimbulkan kegaduhan. Di saat berbagai wilayah lain masih terjebak dalam polarisasi opini publik, masyarakat Trayeman justru tampil sebagai pionir rekonsiliasi sosial berbasis kearifan lokal. Hal ini membuktikan bahwa kekuatan warga terletak pada kesatuan sikap dan kejelian dalam membaca arah situasi, bukan pada adu narasi yang bersifat destruktif. Dukungan penuh dari para tokoh lokal, termasuk dukuh dan tokoh agama, menjadi fondasi kuat dalam membangun benteng sosial yang tangguh di tengah terpaan isu-isu provokatif.

Lebih dari sekadar seremoni, deklarasi ini juga menjadi pesan simbolik kepada publik bahwa stabilitas keamanan bukan hanya tanggung jawab aparat, melainkan hasil dari kesadaran kolektif masyarakat dalam menjaga keharmonisan sosial. Ke depan, langkah-langkah strategis seperti penguatan komunikasi lintas elemen warga, penyebaran pesan damai melalui media sosial, serta pengawasan partisipatif terhadap potensi provokasi akan terus digencarkan.

“Trayeman Tambalan kini bukan hanya dikenal sebagai dusun religius, tetapi juga sebagai contoh nyata wilayah yang mampu bangkit dan bersikap arif dalam menjaga persatuan di atas segala perbedaan”, tegas Anang Jatmiko (Edw)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *